Gubah#2: Pilihan Kuliah

Konten [Tutup]
    Setelah kemarin ngebacot soal sinetron Indonesia, hari ini saya akan ngebacotin soal kuliah. Berhubung saya baru aja tamat kuliah, jadi rasanya pas kali ni. Kalaulah nanti ada yang balas ngebacot: “halah, anak kemarin sorenya kau, dek” ataupun “masih noob kau dek soal kuliah” eits, tunggu dulu. Walau abang-abang ojek daring suka nanya “SMA dimana, dek?” tapi bukan berarti kita belum tamat kuliah, ya. Jadi kamu jangan balas ngebacotin saya, ya. Cukup saya aja yang ngebacot, karena jarang ada orang yang bisa ngebacot berfaedah.

    Saya baru saja diwisuda beberapa minggu yang lalu. Alhamdulillah menyelesaikan perkuliahan Diploma III di Politeknik Negeri Medan. Ngambil jurusan Teknik Mesin, padahal sebelumnya juga udah lulus di jurusan Teknik Komputer. Entah kenapa kok kayanya interest saya lebih ke Teknik Mesin. Banyak orang-orang bertanya, kenapa ngambil D3? Apa gak susah nantinya? Kenapa gak langsung S1 aja. Rugi lo ngambil D3.

    Ok, satu per satu saya bacotin. Semoga bacotan ini bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang tersebut.

    Pas SMA, rasanya pengen kali cepat-cepat tamat, terus kuliah dan kalau bisa kuliahnya juga yang cepat tamat. Kalau bisa tamat kuliah langsung kerja. Dari SMA sebenarnya udah kepikiran pengen kerja sampingan gitu sambil nunggu kuliah, tapi sewaktu itu orang tua saya melarang. Alasannya cukup sederhana: ada saatnya kita itu dimasa produktif, ada pula saatnya kita berada dimasa konsumtif. Saat itu saya dianggap masih di masa yang konsumtif. Dari situ saya ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan kuliah agar bisa menikmati masa-masa produktif.

    Bukannya saya anti sarjana atau apa, Alhamdulillah mungkin memang rezekinya juga masuk D3. Beberapa kali nyoba masuk sana-sini, tapi cuman dua kali kecantol di Politeknik Negeri Medan. Pertama lulus di Teknik Komputer, kemudian gak berapa lama lulus di Teknik Mesin dan lebih tertarik ke Teknik Mesin karena saya lulus di Kelas Kerjasama dengan PT GMF AeroAsia. Bagi saya, ini itu kesempatan langka sebab sepertinya asik juga kalau saya bisa lebih mengenal mesin pesawat.

    Soal sarjana ataupun diploma, semua itu baik. Tergantung pilihan kamu dimana, minatmu dimana, dan maumu apa. Saya pernah dengar keluah kesah teman saya yang mengambil Diploma I, banyak sekali yang meremehkannya karena ia hanya lulus di Diploma I. Padahal, Diploma I sendiri juga bukanlah lulusan yang tidak kompeten. Sayangnya untuk yang urusan seperti ini mengapa khalayak masih banyak yang menyepelekan seseorang perkara titel yang melekat di namanya.

    Tak jarang karena anggapan publik yang sering mempermasalahkan jenjang Diploma membuat para mahasiswa mengulang untuk ambil kelas sarjana ditahun depannya. Yang syukurnya mereka lulus mengikuti ujian masuk jenjang sarjana di tahun berikutnya, dan ternyata lulus juga sesuai dengan jurusan yang mereka inginkan. Yah, gak papa sih. Itu tetap jadi pilihan mereka. Tapi, lagi-lagi kan gak ada salahnya kan punya gelar Ahli? Apa harus Sarjana melulu?

    Masyarakat tidak berhenti sampai disitu dalam mengurusi kuliah. Jurusan-jurusan yang ada pun sempat menjadi bahan cibiran yang asyik dibincangkang. Belum lagi bisa menjadi ajang bangga-banggaan. Kesan rumpun saintek lebih wow ketimbangkan rumpun lainnya masih saja menghiasi pikiran orang banyak. Padahal, setiap jurusan punya pembelajaran yang berbeda dan tentunya tidak bisa disandingkan dengan jurusan lain.

    Lagi-lagi, seorang teman saya yang memilih untuk mengambil jurusan Sastra Inggris pun berkeluh kesah. Pasalnya, ia juga tidak memilih jurusan pendidikan. Kerap beberapa orang bertanya: “nanti mau jadi, apa?” Ingin sekali rasanya bantu menjawab, kalau apapun dan bagaimanapun jadinya teman saya yang tamatan Sastra Inggris itu sama sekali bukan urusannya. Peduli boleh, tapi tak perlu merendahkan juga. Atau bahkan sampai pesimis dengan jalan hidup serta rezeki orang lain.

    Teman saya tadi sempat sedih dengan pendapat orang-orang tersebut. Memangnya salah jika mengambil kuliah sastra? Apakah anak sastra harus mengambil pendidikan bahasa agar kerjaannya jelas-jelas menjadi guru? Lah, kalau passion teman saya tidak jadi guru, tapi suka sama sastra, gimana dong? Gak bisa maksa jugalah harus ngambil pendidikan bahasa.

    Belum lagi jurusan-jurusan favorit dan sering dielu-elukan banyak orang juga dianggap proses perkuliahnya yang cukup berat. Padahal mau berat atau ringan, apa yang harus dibanggain? Lagian dalam hal ini berat-ringannya menjalankan kuliah itu relatif. Berat di dia belum tentu berat di saya, begitu juga beratnya di kamu. Tiap orang akan merasakan beban yang berbeda. Sayangnya beban itu tidak terdeteksi oleh satuan khusus yang bisa mengacu pada suatu perbandingan.

    Saya rasa jurusan yang saya ambil cukup berat, padahal bisa saja jurusan lain masih banyak yang lebih berat. Saya kira jurusan sebelah enak-enak aja menjalaninya, nyatanya teman saya sudah sengok untuk tamat dari jurusan yang diminatinya sedari awal. Cukup relatif, kan, soal beban kuliah ini? Jadi, alih-alih anggar-menganggar jurusan mana yang lebih paten, kenapa tidak saling mendukung saja. Bukannya lebih bagus saling menyemangati sesama mahasiswa agar masa-masa konsumtif menjadi mahasiswa bisa cepat berubah menjadi masa produktifnya?

    Yang lebih kekehnya lagi, orang-orang berkuliah di suatu jurusan seakan-akan menyandarkan masa depannya karena dianggap jurusan yang akan diambil menjamin masa depannya. Sebuah unggahan video di Youtube menjelaskan ada lima jurusan yang memiliki penghasilan tinggi, rupanya Teknik Komputer masuk dijajarannya. Waah, bagaimana ini? Ada yang mau merutuki saya karena sudah melewatkan kesempatan berkuliah di jurusan yang berpenghasilan tinggi?

    Sebenarnya, soal penghasilan agak terlalu sensitif dibacotin. Jadi coba saya ngebacot topik lain aja, ya. Saya bukannya tidak minat dengan jurusan Teknik Komputer, hanya saja ini soal interest-nya saya itu lebih tinggi kemana. Entah kenapa diri saya lebih penasaran mempelajari permesinan pesawat. Bukannya saya tidak tertarik untuk mempelajari seluk-beluk komputer, hanya saja kalau mengambil dua jurusan rasanya sangat tidak memungkinkan untuk dijalani. Lagi-lagi saya bicara soal minat saya dan tentunya pilihan saya dalam menjalani perkuliahan.

    Aslinya, bacotan saya tentang beberapa poin di atas sangatlah banyak. Hanya saja kemampuan tangan saya yang kurang terampil mengetik banyak hal. Rasanya juga saya hanya bisa merangkumnya menjadi bacotan-bacotan yang kira-kira berfaedah untuk dibagikan. Intinya yang mau saya bilang pada serial Gubah#2 ini adalah: kuliah apapun itu bagus. Mau jenjang apapun itu juga oke. Sekarang tanyakan minatmu. Diskusikan juga dengan orang tua, karena banyak juga orang tua yang terlalu memaksakan minatnya ketimbang minat anaknya. Syukurnya, bukannya saya mau mempromosikan orang tua saya, Alhamdulillah saya sangat diberi kebebasan oleh orang tua untuk kuliah di jurusan apa dan kuliah di mana saja. Asalkan lulus dan sayanya mampu untuk menjalaninya. Yang penting sih kuliah. Gak dibolehin sih dulu tamat SMA gak kuliah.

    Nah, buat kamu nantinya yang mau kuliah dan ternyata kemauanmu dan orang tua berbeda, coba dibicarain bagus-bagus, ya. Waktu kuliah nanti ya fokus aja kuliah, cakap-cakap orang yang bersuara sumbang tak usah didengarkan kali soal pilihan kuliah yang kamu ambil. Nanti lama pula tamatnya, kan, gara-gara dengerin suara yang bisa merusak pendengaran.

    Omong-omong soal kuliah, sebenarnya saya pengen sih lanjut sarjana. Bahkan tetap ada keinginan untuk lanjut pascasarjana nantinya. Tapi lagi-lagi ini soal pilihan kuliah. Rasanya kayanya lebih enak nantinya kalau sarjana sambil kerja. Jadi ya, kita lihat saja ya nanti, bagaimana proses perkuliahan saya setelah ini. Udah ah ngebacotnya. Banyak-banyak bacot juga ga baik, meskipun bacotannya berfaedah. Mending disimpen buat besok aja bacotannya. Pokoknya selalu tungguin bacotan besok hingga hari Minggu nanti, ya.

    11 komentar:

    1. nahhh kalo sekarang bahas perkuliahan....
      gimana kalo kita bahas gini...
      setelah tamat kuliah mau jadia apa? Pengusaha atau karyawan?
      kan banyak tuhhh pro dan kontra... ada yang bilang, yaa bagusan pengusaha lahh duitnya lebih banyak.. ada yang bilang yaa kelas karyawan lahh,, gak ribet amat mikirin ini-itu, tinggal kerja eehh dapat gaji...

      jadi gimana? mau ngebacot masalah ginian bang?

      BalasHapus
      Balasan
      1. Bisa-bisa, nanti ya tunggu tanggal mainnya ngebacotin yang ginian. Saya bisa ngebacotin segala keresahan anda sekalian, wehehehe.

        Hapus
    2. Gak tau kenapa seneng aja sama jurusan yang ada teknik teknik nya berasa kayak orang pinter gitu. Kalo kata bapak nya Doel (tukang insinyur)

      BalasHapus
    3. Pernah ngalamin salah satu dari yang dibacotin di atas. Cuma bisa jawab "apa yang dipilih akan di pertanggung jawabkan. Dan yang dimulai akan diselesaikan"
      *Tangan saya gmetaran uda lama gak komen ��

      BalasHapus
      Balasan
      1. Kakak ini nanya apa jawab nih hehehe. Btw entah itu jawaban atau pertanyaan, yang jelas soal pertanggungjawaban ini agak berat bahasnya, kak.

        Hapus
    4. Dan abg pun kuliah karena ikut tren 😀
      Kuliah yg paling banyak diminati oranf~

      Masa konsumtif yaa, bru denger istilah ini tpi masuk akal...

      Jalan jalan juga dipost hari ke2 awak tentang travel blogger medan

      BalasHapus
      Balasan
      1. Gapapa bang, yg penting minatnya di situ dan bisa dijalani.

        Hapus
    5. aku kuliah ya karena masih mampu aja. sulit sih, tapi semua jalan pasti ada kesulitan-kesulitannya sendiri kan?

      BalasHapus
      Balasan
      1. Betul kali kak. Kadang dari kesulitan itu kita ngeluh, kebanyakan orang juga sempat mikir apa salah jurusan, tapi kalau kita jalani insya Allah lewatnya semua itu kan.

        Hapus
    6. dan akhirnya lanjut kuliah s1 karena ikut ikut kawan, dan karena ikut kawan, kawan itu malah ninggali pas mau skripsi, karena skripsi juga kebanyakan ga normal, ya bisa di bilang pakai jalur belakang, wkwk

      BalasHapus