Gubah#6: Berlakunya Karma

Konten [Tutup]
    Diakhir pekan kali ini, gak ada salahnya kita beristirahat sambil memperbaharui diri. Terus introspeksi dan membuat diri lebih baik dari minggu ke minggunya bisa membuat kita menjadi orang-orang yang tidak merugi. Terkadang permisalan roda kehidupan tersadari jika kita semua berada di bagian yang bawah. Sering juga sumpah serapah keluar atau mungkin kalimat penyesalan seperti “duh, salahku apa sih?”

    Alih-alih seperti itu, banyak yang menggambarkan itu sebuah karma. Karma sendiri menurut pandangan saya sama seperti pepatah siapa yang menanam dia yang menuai. Lagi-lagi, banyak yang mengartikan karma itu selalu berkonotasi negatif. Padahal sesungguhnya yang namanya karma tidak melulu soal keburukan.

    Nah, hari ini, sambil sama-sama kita mengintrospeksi diri menjadi lebih baik, entah kenapa rasanya enak juga kalau ngebacot santuy soal karma. Sambil istirahat sejenak, dengan tulisan yang mengalir begitu saja, rasanya bisa jadi rileksasi tersendiri di akhir pekan. Sebelumnya, sebagai seseorang yang mempercayai kalau karma itu ada, maka bacotan ini pure berasal dari buah pemikiran saya. Tidak ada klaim kalau ini merupakan sesuatu yang benar. Tentunya, bagi banyak orang yang tidak mempercayai karma pun tidak saya salahkan. Semua itu tergantung bagaimana caramu berpikir dan apa yang kamu anggap benar. Sebab apa yang saya petik dari semua buah pemikiran saya tidak semuanya bisa berlaku untuk kehidupan orang lain.
    Banyak yang mengatakan kalau cara kerja karma seperti domino yang di susun secara melingkar. Simple-nya sih kita bilang sebuah siklus melingkar. Padahal bagi saya belum tentu sih seperti itu. Dari dulu banyak teman saya yang mengeluh soal tolong-menolong sesama temannya. Gak cuman tolong-menolong sih, tapi lebih kebanyakan soal nge-treat temannya. Ketika seseorang memperlakukan temannya lebih baik, sebenarnya ada kalimat tersirat: karena saya sudah baik, maka kamu balas dengan kebaikan juga ya.

    Padahal realitanya di lapangan tidak seperti itu.

    Terkadang kita yang berharap dan menggantungkannya kepada orang lain sering sekali merasa kesal tanpa bisa menyalahkan siapa-siapa. Menyalahkan diri sendiri pun rasanya terlalu berat. Alih-alih menyalahkan siapa ataupun berharap pada siapa, lebih baik kita tidak perlu terlalu berharap dengan orang lain. Saya bilang ke teman-teman saya yang mengeluh, gak masalah kalau mereka baik dengan orang lain. Gak perlu rugi kalau bisa menolong banyak orang. Orang-orang tersebut memang belum tentu bisa menolongmu atau bahkan memperlakukanmu dengan cara yang baik. Bisa saja malah menjahatimu. Tapi untuk menjadi pembenci sepertinya tidak diperlukan dalam menjalani kehidupan.

    Saya bilang ke teman saya, kamu menolong si A, bisa jadi yang balas menolong si B. Si A tadi walaupun tidak menolongmu bisa saja ia menolong si B yang bisa menolongmu. Terjadi hubungan siklus, bukan? Nah, ini sebenarnya bisa disebut karma, karena karma itu konsepnya adalah perbuatan atas apa yang kita perbuat di masa lampau, baik itu perbuatan positif maupun negatif. Tapi menurut saya pribadi cara kerja karma memang bukan melulu soal siklus ataupun domino yang disusun melingkar. Bisa saja orang lain yang menolongmu tanpa sebelumnya pernah mengenal atau kamu duga, atau siapa sajalah. Kita tidak pernah mengetahui hal-hal yang terkadang kita tidak bisa berpikir untuk lebih jauh lagi—tentunya juga jernih.

    Begitu juga dengan perilaku jahat, jika kamu menjahati orang hari ini, bisa jadi orang lain ke depannya yang akan menjahatimu. Walaupun orang yang kamu jahati itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang yang menjahatimu, tapi saya rasa itulah karma. Terkadang kalimat penyesalan “aku salah sama siapalah, kenapa jadi seperti ini?” keluar dari mulut seseorang yang sebenarnya tidak pernah berpikiran jauh. Lebih mengarah ke orang yang tidak pernah berhati-hati dalam menjalani hidup.

    Siapapun kamu, baik yang dijahati maupun yang mau menjahati orang lain (kalo bisa jangan) semuanya akan ada pertanggungjawabannya. Jika karma tidak bisa membalas di dunia—atau sebenarnya lebih mengarah kamunya tidak sadar berlakunya karma—berpegang teguhlah pada kehidupan setelah di dunia ini. Karena dunia ini adalah persinggahan dan tentunya perjalanan yang panjang ialah di akhirat kelak. Semua perbuatanmu, mau itu baik atau jahat juga akan diadili nantinya. Jadi, tak perlu merutuki bahwa hidup ini tidak adil, atau dunia ini tidak adil. Karena kita tahu keadilan yang sesungguhnya bisa saja ada setelah kehidupan ini.

    Duh, kenapa bacotan hari ini agak apa kali, ya. Awalnya mau nyantai kenapa kok jadi berat kali gini(?) Udah-udah, kita balik rileks lagi.

    Jadi sebenarnya yang mau saya sampaikan adalah teruslah berbuat kebaikan, tanpa pernah memandang kejahatan. Baik itu kejahatan yang akan kita perbuat maupun kejahatan yang orang lain perbuat. Kita memang manusia biasa, suka kesal, marah, dan emosi terhadap kejahatan orang lain. Gak masalah itu, tapi jangan berlarut-larut juga. Tarik terus sumbu sabarmu, perpanjang tali kebaikanmu sekalipun api kejahatan membakarnya. Manusiawi memang kita kesal sama orang lain, tapi jangan sampai kita tidak menjadi manusia atas balasan kejahatan maupun kebencian yang kita pupuk.
    Sebenarrnya hidup kita cukup hina jika dibaluri dengan kebencian. Melupakan apa yang pernah menyakitimu bisa menjadikan hidupmu lebih berkualitas dan produktif. Lagi-lagi, introspeksi terus dirimu. Kira-kira apa yang harus diperbaiki, apa yang harus dimaafkan, atau bisa jadi sama siapa saja harus meminta maaf. Terus buat dirimu menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat dan tentunya upgrade terus dirimu. Sekalipun perubahan yang tampak sangat kecil, tapi gak papa. Asalkan kitanya mau berubah untuk menjadi lebih baik lagi. Ingat terus juga berlakunya karma. Kamu baik sama orang, maka kebaikan-kebaikan lain akan terus menyertaimu. Ok?

    Saya rasa mending udahan aja ngebacotnya. Sebelum nanti bacotan ini menjadi cukup berat, lebih baik kita sudahi dulu. Yang penting kita semua bisa untuk introspeksi diri sebelum pekan ini surut. Besok adalah serial Gubah yang terakhir. Setelah enam serial Gubah (Seminggu Ngebacot Berfaedah) ini tayang, maka insya Allah akan saya ganjilkan semuanya menjadi tujuh. Walau sesuatu yang ganjil itu terkesan negatif, tapi untuk kali ini gak papa. Kita buat semua yang negatif jadi positif. Mulai dari ngebacot yang suka dinilai negaitf terus kita buat jadi positif, karma yang kebanyakan orang berpikiran negatif kita buat jadi karma yang bagus, dan tentunya keganjilan serial Gubah nanti bisa menjadi hal yang benar-benar berfaedah buat kita semua.
    Akhir dari tulisan ini saya tutup dengan menyampaikan ucapan selamat berakhir pekan buat kita semua, tetap semangat dalam menjalani hidup dan jangan lelah untuk selalu berbuat baik.

    4 komentar:

    1. Ih tulisan kita hari ini kok kayak saling berkaitan yak, jangan jangan... 😂

      BalasHapus
    2. dan aku termasuk orang yang sangat sangat percaya kalo karma itu emang ada dan berlaku buat siapa aja.
      yaaaahhhh,,, doaku cuman satu,,, AKU DOAKAN SETIAP CEWEK YANG PERNAH NOLAK DAN NYAKITIN AKU, KARMA YANG MEREKA DAPATKAN LEBIH BURUK DAN LEBIH PARAH... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHA

      mamposss!!!!...

      itu sekian dari aku!, hehehe

      BalasHapus
    3. Pernah dengar, kalau orang yang punya attitude buruk, gak usah capek2 dibalas. Ntar kena batunya sendiri

      BalasHapus