Antara Dongeng dan Fiksi [Only Indonesian Version]


“Alam semesta ini punya rahasianya sendiri, Lu. Yang perlu kita lakukan adalah percaya pada rencana-rencana dibaliknya”
—Eli, Happily Ever After halaman 251

Jujur, kali ini aku akui Mbak Winna memang keren banget. Sebelumnya, aku sempat baca komentar-komentar orang yang pernah membaca novel ini, yang paling buatku sedikit bingung dengan komentarnya adalah perpaduan antara cerita dongeng dengan kisahnya.

Setelah membaca novelnya, barulah kebingunganku terjawab. Dan kuakui, konsep Mbak Winna memang sangat cerdas. Setiap kejadian yang Mbak Winna paparkan selalu membuat pembacanya tidak pernah menyadari akan kelanjutan apa yang terjadi. Untuk kali ini, Mbak Winna mampu menahan pembacanya untuk tetap beremosi dan lebih sabar menunggu apa yang terjadi.

Permainan kata yang kuat, namun sederhana. Itu yang membuat lagi-lagi aku takjub dengan Mbak Winna. Tapi, ada satu hal yang sangat membuatku kecewa dengan konsep Mbak Winna, yaitu saat anak sebocah Mia yang seharusnya tidak lebih bijak daripada seorang anak dewasa dan menasehati anak remaja. Duh, rasanya terkadang aku memang terlalu menyepelekan perkataan anak kecil, tapi aku masih tidak percaya dengan apa yang kubaca saat Mia menceramahi Lulu.

Duh, jadi teringat Rafael—bocah begitu cerdas dan sedikit tidak kuterima dalam logika—di serial Audy-nya Mbak Okke. Mungkin, melibatkan anak kecil dalam cerita remaja rasanya seru juga.

Dan ada satu hal yang bikin kecewa, di akhir cerita. Ah, kenapa ya Mbak Winna tidak mendeskripsikan postur badan Eli yang dulunya hot saat sudah sembuh dari kanker. Padahal, rambutnya juga sudah tumbuh. Ah, sayang, di akhir ceritanya walaupun terkesan happily ever after, tapi ada yang kurang buatku.

But, honestly
, segala kekecewaanku itu gak membuat novel ini menjadi fatal kok. Aku sih menanggapinya itu terserah Mbak Winna sebagai penulis yang menulis cerita ini. Tetap tidak bisa dipungkuri kalau konsepnya itu yang keren banget. Apalagi dihubungkan dengan cerita dongen buatan Lulu buat ayahnya. Ah, speechless. By the way, menurutku mungkin novel ini bakalan novel ketiga Mbak Winna yang bakalan diadaptasi ke layar lebar. Ah, semoga sajalah.

“Ayah bilang begini, karena ini medan pertempuran yang nggak bisa kamu hindari. Dalam hidup kamu selanjutnya, akan ada medan-medan perang pertempuran yang lain, tetapi sekolah adalah medanmu yang sekarang. Ayah tahu ini sulit buat Lulu... Tapi, percaya deh, kalau dijalani dengan gagah berani, pasti nggak buruk-buruk amat, walaupun kalah akhirnya sekalipun. Lagi pula, kenapa takut kalau kalau kamu mungkin akan menang?”
—Ayah, Happily Ever After halaman 17

~ ~ ~

Judul: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Editor: Jia Efendie
Penyelaras Aksara: Widyawati Oktavia
Penata Letak: Gita Ramayudha
Penyelaras Tata Letak: Erina Puspitasari
Desainer Sampul: Jefri Fernando

No comments:

Post a Comment