Tidak Ada Angkot di Medan [Only Indonesian Version]


Tulisan ini sama sekali tidak mengejar keviralan ataupun menjadi trending. Jika tulisan ini dimaksudkan untuk mencapai hal-hal tersebut, seharusnya tulisan ini tidak diterbitkan saat kejadian ini sudah tidak diperbincangkan di kota Medan.

Masalahnya saya memang ingin membuat tulisan ini sejak hari pertama kejadian ini dan saya sendiri merasakan dampaknya. Hari itu, Rabu di tanggal 13 Desember 2017, di pagi harinya saya baru mengetahui kalau tidak ada angkot di kota Medan. Karena kesibukan dan kelelahan, baru hari ini saya bisa menuliskan tentang kejadian di pagi hari tersebut.

Seringnya setiap pagi saya naik angkot untuk berangkat ke kampus. Terkadang saya diantar oleh Abang saya apabila saya masuk jam setengah delapan. Jam tujuh kurang kami harus bergerak, sebab Abang juga masuk jam setengah delapan. Kalau jadwal perkuliahan di mulai setengah delapan saya rasa tak masalah pergi sama. Hanya menunggu beberapa menit di kampus sebelum perkuliahan di mulai.

Kebetulan Rabu kemarin perkuliahan di mulai pukul delapan. Abang sudah pergi duluan. Saya yang malas menunggu hampir satu jam di kampus memutuskan untuk pergi belakangan dengan jasa angkutan umum. Tapi begitu sampai simpang rumah semuanya terasa ganjil. Tidak ada angkot yang melintas.

Tak berapa lama Kakak saya menelpon, mengatakan tidak ada angkot yang beroperasi. Mereka hendak demo ke Kantor Gubernur—katanya. Dia menyuruh saya untuk memesan ojek daring saja. Yasudah kuikuti apa maunya.

Harga ojek daring seakan-akan langsung meroket. Pikir saya mereka pandai sekali memanfaatkan situasi. Sampai dua aplikasi saya coba untuk memesan. Hasilnya nihil. Pengemudi katanya sibuk. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh tiga menit. Aku tak punya banyak pilihan.

Mau terus menunggui mereka? Ah, sepertinya tidak mungkin sebab baterai ponsel saya tinggal satu persen. Niatnya memang untuk mengisi daya di kampus. Terus saya coba berulang kali, takut ponsel segera mati. Sembari itu tetap saya tunggui becak kosong. Tapi tidak ada, semuanya memiliki penumpang.
Hingga hampir setengah delapan baru saya dapati tukang becak yang kosong. Saya sudahi saja usaha saya mencari ojek daring. Tanpa menegosiasi harga, saya bilang tujuan saya dan tukang becaknya langsung mengangguk. Setelahnya saya menaruh tas di bangku dan duduk di sampingnya. Meskipun tiada angkot, jalanan tetaplah macet seperti pagi biasanya. Hanya siang saja yang saya dapati lengah. Banyak warga yang menyukai kondisi ini. Di media sosial banyak bahkan semua dari baris waktu media sosial saya menyukai kondisi Medan tanpa angkot.

Kalau saya pribadi justru kurang menyukainya. Terserah mau kamu anggap saya sok anti mainstream atau melawan arus, tapi inilah pendapatku. Di balik adanya angkot yang katanya membuat macet itu banyak jiwa-jiwa yang merasa terbantu. Saya misalnya, masih sering menggunakan angkot untuk berpergian. Orang-orang lain juga banyak, walau kehadiran transportasi daring menggiurkan, tak jarang isi angkot membludak. Bahkan sering di jam sibuk supir angkot memberi tanda maaf karena tidak bisa memberikan tumpangannya kepada saya dikarenakan angkotnya penuh.

Di balik kesenangan mereka kalau seterusnya Medan tanpa angkot, ada pula supir angkot yang berusaha untuk menafkahi keluarganya. Coba di pikir, kalau misalnya tidak ada angkot, terus mereka mau kerja apa? Makan apa? Atau perlu mereka melakukan cara haram? Bertindak kriminal seperti pencopet? Atau hina seperti pengemis bohongan?

Mereka, yang kamu anggap biang kemacatan itu, setidaknya masih lebih terpuji dari apa yang sudah saya sebutkan di atas. Ok, kita ikuti mau kalian. Tidak ada angkot di kota Medan. Tapi mau tingkat kriminal di Medan makin tinggi lagi? Kalau gak ada angkot bisa saja supir angkotnya alih profesi jadi maling. Kalian lebih milih jalanan macat atau kota tidak aman? Ya pasti gak dua-duanya. Solusinya yang mudah hanyalah bagaimana cara mengatasi kemacetan di jalanan Medan.


~

Saat di becak, sembari melewati padatnya jalanan Medan, tukang becak yang saya tumpangi bercerita. Saya melihat sepanjang jalan dan simpang, banyak orang yang menunggu sambil berkutat dengan ponsel mereka. Mungkin mereka adalah orang-orang yang biasa menggunakan jasa angkot. Terpaksa hari ini berebut transportasi daring. Biasanya pinggir jalan tidaklah seramai dengan orang yang menunggu angkutan.

Tukang becak melihat ojek daring beroperasi. “Masih berani juga ya orang itu narik (mengangkut pelanggan),” katanya sambil menunjuk ojek daring di depannya. Aku masih diam. Dia terus melanjutkan percakapan, “ini semua supir angkot mau demo di kantor Gubernur, Dek. Soal transportasi online inilah.”

Lagi-lagi aku masih diam, tidak tahu harus merespon apa. Dia melanjutkan, “coba adik lihat, apa boleh seharusnya plat hitam ngambil sewa (penumpang)? Dimana-mana harus plat kuning yang cuman bisa ngambil sewa. Mana ada plat hitam yang ngambil sewa.”

“Indonesia ini lama-lama lucu. Harusnya kalau mereka mau ngambil sewa, ya platnya diganti jugalah. Ganti sama plat kuning. Kaya gitu kan bagus, semua tertata, jelas pendapatan negara sumbernya darimana aja. Ini masak cuman angkutan umum aja yang pakai plat kuning.”

Sepertinya saya mulai mengerti ini pembicaraan kemana. Saya memang tidak tahu sama sekali soal pajak kendaraan atau apalah itu. Tetapi saya rasa apabila transportasi daring itu menggunakan plat kuning sepertinya pajaknya beda. Tapi tak tahulah. Itu hanya kemungkinannya saja. Terus saya bertanya, “jadi Pak, supir angkot itu dia mau nuntut hak apa?”

“Ya itu tadilah, Dek,” jawabnya, “soal plat kuning itu. Harusnya diberlakukan jugalah untuk yang mau nyari sewa. Aku sama sekali gak merasa ruginya kalau orang itu narik. Boleh aja, orang sama-sama nyari rezekinya. Tapi ya itu tadi, yang namanya peraturannya gitu, ya di jalanilah. Gantilah pakai plat kuning. Biar sama-sama ngerasain gimana rasanya berplat kuning. Kan sama-sama mau nyari sewa kan?”

Saya hanya mengangguk, sedikit mengerti dimana permasalahnnya ini. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa mereka ingin persamaan hak dan kewajiban. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah ada hal lain atau tidak.

Perlu ditekankan bahwa saya bukanlah anti tranportasi daring. Bukan berarti saya membela-bela angkutan konvensional dikarenakan saya sering menggunakannya hingga takut saya merasa kehilangan. Tapi sebenarnya kita semua harusnya takut kalau itu hilang. Oh iya, kamu masih berpikir kali ya kalau angkot tidak ada, supir angkotnya bisa beralih ke daring? Atau mungkin juga supir becak akan beralih juga ke daring?

Ok, jadi gini. Saya mungkin membenarkan pernyataan kamu asalkan pemerintah atau juga perusahaan transportasi daringnya memfasilitasi mereka semua, baik dari segi materil dan skill mereka. Rata-rata supir angkot mungkin tidak memiliki ponsel berbasis Android ataupun iOS. Boro-boro punya ponsel bagus, bisa makan enak aja mungkin mereka bersyukur. Sudah begitu, ya itu tadi, perlunya pelatihan juga untuk mereka semua dalam menjalankan aplikasi dan sebagainya.

Masalahnya kan, coba kamu pikir berapa dana yang perlu dihabiskan untuk itu semua? Uangnya dari mana? Dari perusahaan? Entar perusahaan gak nerapin prinsip ekonomi lagi dong kalau modalnya aja udah kegedean.

Terus lagi, masyarakat Indonesia belum semuanya juga yang memiliki ponsel berbasis Android dan iOS. Jadi kalau mau kemana-mana jika tidak ada transportasi konvensional semuanya harus jalan kaki gitu? Yasudahlah, saya senyum aja dulu, ya. 😅

Sekali lagi, dari dulu saya sering sekali berpikir dan berpendapat berbeda dari banyak orang. Di saat orang lain berpendapat begitu, entah kenapa saya punya pemikiran lain. Akhirnya, saya dibilang yang enggak-enggak. Ok, tidak masalah. Itu terserah kamu mau bilang apa.

Saya pengguna semua jenis transportasi. Untuk kesehariannya saya menggunakan angkot. Apabila ada mepet terus macet, saya pun memanggil ojek daring. Dari zaman SD sampai SMA kalau mau kemana-mana sama teman dulu panggil becak, atau gak telpon taksi. Itulah yang saya gunakan, sesuai dengan keadaannya. Saya sendiri juga tidak begitu setuju kalau transportasi daring di berhentikan, tapi tetap seperti yang dikatakan Bapak tukang becak tadi, kalau platnya harus diganti sih saya setuju aja.

Kalau kamu beranggapan karena adanya transportasi daring para supir angkot cemburu, justru kamu salah. Karena harga yang ditawarkan mereka lebih terjangkau, justru masih banyak kok yang lebih memilih naik angkot. Malah seperti yang saya sebutkan tadi, sering juga angkot itu meluber hingga harus ada yang bergantungan di pintunya. Hanya saja seperti yang dibilang Bapak tukang becak tadi kalau mereka cuman mau platnya harus sama-sama kuning.

Terus ada yang beranggapan, ntar kalau lagi gak narik malu dong bawa motor atau mobilnya buat kemana-mana. Mau liburan sama keluarga jadi malu dong kalau bawa mobil narik, bukan mobil pribadi. Duh, saya heran mendengar anggapannya. Kenapa harus malu coba? Apa pekerjaanmu itu sesuatu yang hina? Kan tidak.

Dari dulu juga para supir angkot dan becak kalau kemana-mana ya naik angkot dan becak, sesuai kendaraan yang mereka punya. Kecuali angkot dan becak mereka itu punya juragannya, dalam hal ini mereka cuman menyewa. Nah, yang lainnya pasti mereka naik kendaraan yang mereka punya. Mereka membawa keluarganya berekreasi juga naik angkot atau becak. Tapi apa mereka malu? Kan enggak. Karena kerjaan mereka tidaklah hina, seperti pekerjaan yang saya sebutkan tadi.

Soal kemacatan, saya rasa gak cuman angkot kok yang bikin macet. Atau jangan-jangan, ada salah satunya kamu dari penyebabnya. Soalnya saya kemarin baca status teman saya di Facebook bahwasannya kalau gak ada angkot, Medan tetap agak macet karena adanya sepeda motor. Dia juga beranggapan bahwa sepeda motor adalah biang kemacaten kedua setelah angkot. Nah, buat kamu yang naik sepeda motor, hayo gimana? Tentunya saya gak nyalahin kamu yang naik sepeda motor itu jadi biang kemacetan kok. Teman saya itu yang bilang, jadi jangan anggap saya yang bilang, ya.

Perjalanan menuju kampus akhirnya usai di jam delapan kurang sedikit menit. Meskipun begitu, saya harap nanti saat pulang angkot sudah beroperasi. Namun tetap saja mereka masih mogok. Dalam doa saya selipkan semoga pemerintah bisa bijak menghadapi hal ini.

Tulisan ini saya buat sesuai opini dan realita yang saya dapatkan. Apabila ada fakta lain di luar sana yang belum saya ketahui dan ternyata bersinggungan dengan tulisan saya, saya mohon maaf. Mari sama-sama kita berdiskusi dan mengutarakan pendapat kita masing-masing.
~~~

2 comments:

  1. Iya susah juga sebenernya kalau nggak ada angkot di Medan, apalagi angkot adalah angkutan yang paling murah kalau jarak jauh.

    ReplyDelete
  2. Hmmm... Iya juga sih kalau emang mau diganti ke plat kuning...

    Tapi di medan ini yg buat macet bukan angkotnya atau motornya, atau becaknya, atau kendaraan pribadinya, tapi pengendara dan pengemudinya serta pengguna area lalulintasnya yg buat medan ini Macet... Gak taat aturan lalu lintas. Udah itu aja
    ��

    ReplyDelete