Menikmati Mimpi Alfa



“Ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita. Bukan karena mereka tidak ada. Melainkan, kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya. Ada hal-hal di dunia ini yang bersama-sama dengan kita sekarang, tapi mereka ibarat batu dan kain ini,” sambung Amaru, lalu ia mengambil batu itu dari meja. “Kalau saya angkat batu ini tiba-tiba, si kain akan menganggap benda lonjong itu hilang dari dunianya. Ia tidak tahu batu itu melayang di atasnya. Ia tidak sanggup melihat ke atas karena keterbatasannya.”
—Amaru, Gelombang halaman 13

Baru saja membaca Supernova Episode: Gelombang ini sebentar, sudah bisa mendapatkan kata-kata yang jleb dari Dee Lestari. Memang benar-benar pintar salah satu dari dua penulis favoritku ini merangkai kata-kata yang penuh bijak. Perumpamaan yang sederhana, tapi terkadang tidak pernah terpikirkan oleh kita yang membuat karya Dee Lestari selalu laris.

Gelombang sendiri mampu membuat anak Medan, khususnya orang Batak sepertiku ini takjub. Baru tahu kalau di Sumatera Utara ini ada sebuah kampung yang bernama Sianjur Mula-Mula yang kental sekali dengan adat Bataknya. Dentuman-dentuman gondang khas Batak itu begitu khas dimainkan oleh Dee dengan kata-kata menghanyutkan. Ah, kalau nanti berkesempatan ke Danau Toba, mungkin tidak ada salahnya pergi ke Sianjur Mula-Mula daripada menyebrang ke Samosir dan menyusuri Tele melihat keindahannya.

Aku benar-benar takjub dengan apa yang dipaparkan Dee lewat Gelombang. Saat Alfa benar-benar bingung harus memilih antara Ronggur Panghutur atau Ompu Togu Urat. Konflik yang terjadi benar-benar tidak bisa membuat pembaca sepertiku menebak apa yang terjadi. Di luar dugaan, Dee menceritakan apa yang tidak pernah terpikirkan oleh pembacanya.

Untuk urusan setting, ternyata Dee  tidak terpaut oleh Sianjur Mula-Mula. Ternyata, konflik yang tadi itu hanyalah sebuah permulaan yang sudah begitu luar biasa, lantas bagaimana dengan selanjutnya? Jawabannya adalah benar-benar memuaskan di akhir.

Kemudian, Dee membawa Alfa pergi ke Jakarta. Masih terasa sekali setting tempo dulu yang dibuat Dee: Pergi ke Jakarta lewat kapal, berangkat dari Belawan, dan ah, yang buat terkejut saat seorang bocah seperti Alfa harus bergadang bersama para dewasa dan sempat menyinggung soal New York.

Saat sampai di Jakarta, rasaku konflik berjalan datar. Tidak ada grafik yang menunjukkan naik turun. Tapi, lagi-lagi Dee memainkan kata-katanya untuk memacu pembaca melewati masa-masa di Jakarta. Dari percakapan basa-basi dengan Bapaktua, sempat membuatku berpikir dua kali tentang kebenaran pernyataan ini:

“Kau tahu pekerjaan paling menyiksa dalam hidup ini? Menunggu. Kalau kau terlalu pintar, kau jadi harus tunggu orang-orang bodoh. Kau sudah di mana, mereka masih kepayahan lari di belakang. Ikut capek kita.”
—Bapaktua, Gelombang halaman 112-113

Sempat berpikir dua kali, apa aku harus menjadi lebih pintar, atau harus tetap biasa-biasa saja. Tapi, mengingat kalau menunggu adalah pekerjaan yang paling melelahkan, maka rasanya lebih baik biasa-biasa saja.

Selanjutnya, setelah Alfa tadi menyebut-nyebut tentang New York, akhirnya ia pun pergi ke New York. Ia ambil alih posisi Abangnya yang harusnya pergi ke New York. Ah, mungkin janjinya saja yang ke New York. Tapi, sebenarnya ia diungsikan ke Hoboken.

Di Hoboken sendiri, Alfa tinggal bersama Amanguda. For your information, Hoboken adalah neraka bagi Alfa. Saat itu, ia harus bekerja di Hoboken dengan status kewarganegaraan yang ilegal. Tidak hanya itu juga, suasana Hoboken yang begitu menyeramkan untuk orang pendatang seperti Alfa. Di sini, konflik yang dipaparkan Dee benar-benar seperti gelombang. Benar-benar meliuk-liuk.

Di Hoboken juga, Alfa merasa bahwa semua orang Batak adalah bersaudara. Tak pandang marga, usia, bahkan kepercayaan sekalipun. Sebenarnya, sudah lama aku menyadari ini, tapi kata-kata Amanguda berikut yang membuatku semakin percaya.

Hulahula(mertua)-ku itu Parmalim. Ada dua boru(anak perempuan)-nya. Dua-duanya dapat suami orang Kristen. Dia bilang begini sama aku, ‘Hei, Batubara. Buatku yang penting boru-ku bahagia. Aku tak pusing soal kalian menyembah siapa dan makan apa. Selama kita lahir di tanah Batak, mati di sini, kita bersaudara.”
—Amanguda, Gelombang halaman 117

Selain itu, Dee Lestari juga menyuruh Alfa untuk mengatakan satu kalimat yang membuatku lagi-lagi bangga menjadi orang Batak.

We, the Batak people, are known for our hardness. Hard work, hard attitude, and hard faces.
—Alfa, Gelombang halaman 184

Hingga singkat ceritanya, Alfa medapatkan beasiswa kuliah dan ia menjadi seseorang yang teramat pintar. Setelah itu, ia bekerja dan sukses dalam pekerjaannya karena kerja kerasnya. Setelah itu, konflik kembali menjadi datar. Mungkin Dee memberikan sedikit waktu pembaca untuk mengambil nafas karena ketengangan selama di Hoboken.

Mungkin, setelah oksigen sudah cukup banyak masuk ke paru-paru pembaca, barulah Dee memulai permainannya. Permainan yang sesungguhnya, dengan beribu konflik yang saling berkait dan tak bisa diduga-duga oleh pembaca.

Berawal dari kado ulang tahun dari sahabat Alfa, ia berjumpa dengan Ishtar. Karena Ishtar pula, ia menjadi terlalu kelewat obsesi dan mencoba untuk mencari Ishtar yang menghilang. Ia juga meminta tolong kepada sahabatnya untuk mencari Ishtar.

Sementara itu, yang sebelumnya Alfa mendapat gangguan tidur karena mimpi-mimpi buruknya, Dee menemukan Alfa dengan Nicky dan dr. Colin. Tepatnya di klinik dr. Colin, bernama Somniverse—tempatnya klinik bagi orang-orang yang mendapatkan gangguan tidur. Oh ya, dr. Colin sendiri juga percaya kalau mimpi-mimpi Alfa itu sebuah petualang yang amat menakjubkan. Dan di sini, konflik kembali memicu kepada mimpi-mimpi Alfa yang mengandung cerita.

Hingga akhirnya Alfa semakin penasaran dengan mimpi, dan ia menemukan buku yang teramat langka tentang mimpi yang ditulis oleh dr. Kalden. Orang dari Tibet yang dulunya pernah tinggal di New York itu juga banyak membantu Dee dalam membangun konflik.

Hingga akhirnya Alfa menemui dr. Kalden dan mencarinya ke Tibet, disitulah Alfa tahu bahwa dirinya adalah Peretas, dr. Kalden itu ialah Infiltran, dan banyak yang mengincar dirinya selama ini ialah Sarvara. Dan di sini juga, aku baru menikmati bagaimana kalau mimpi itu diceritakan dengan cerita fiksi. Rasanya sunggung luar biasa, dan begitu nikmat.

Sebenarnya, masih banyak lagi konflik yang harus aku jabarkan dari novel Dee yang satu ini. Maka dari itu, rencananya tugas karya ilmiahku nanti akan mengambil sumber dari Gelombang. By the way, insya Allah judulnya ialah: Menganalisis Konflik Cerita dalam Novel Supernova Episode: Gelombang Karya Dee Lestari. Doakan saja agar selesai cepat dan kalau ada waktu nanti akan aku share hasilnya di Blog ini juga.

“Selalu ada keindahan, Alfa. Seburuk apapun kondisi yang pernah kulihat, keindahan selalu ada. That’s what you need to remember.
—dr. Kalden, Gelombang halaman 449

6 komentar:

  1. Kebetulan aku belum baca bukunya, tapi liat review-nya kayaknya pingin baca juga satu saat nanti. Moga2 Nikmal kebagian tempat di Coaching Clinic-nya Dee nanti yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak harus baca novelnya. Dan mungkin, keempat Abangnya Gelombang Mbak harus baca juga.

      Aamiin, semoga aja Nikmal kebagian tempat. By the way, makasih ya Mbak udah mau ngeluangin waktu buat baca. :)

      Hapus
  2. Huaa belum terbeli bukunya. Padahal pengen jumpa sama Dee :(

    Selalu salut sama hasil riset Dee untuk karya-karya Supernovanya ( ^,^)b

    Salam kenal ya Nikmal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buruan beli gih, biar bisa ketemu sama Dee

      Dee emang selalu kuat dalam hal riset, itulah yang membuat karyanya selalu jempol

      Salam kenal juga :D

      Hapus
  3. Dee selalu menarik, aku suka karyanya sekali tidak terduga dan jalan ceritanya selalu berbeda dari kebanyakan . Pengen beli d2h bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cepetan beli sana kak buku-buku Dee :)

      Hapus