Legal Friendship [Only Indonesian Version]


Aida memasuki ruangan kantor guru, terus menuju ke meja Bapak Abdul. Bapak Abdul yang sudah tahu akan kebiasaan Aida si murid cerdas itu langsung tersenyum.

“Aida, apakah kamu sudah beristirahat?” Pak Abdul langsung tersenyum melihat wajah Aida yang cemberut. Ia sudah menebak, pasti muridnya yang satu ini menanyakan soal yang kurang dimengertinya. Namun, Aida selalu lupa akan waktu sehingga ia jarang beristirahat.

Aida menggeleng, dan itu seperti dugaan Pak Abdul. “Kenapa belum istirahat?”

“Ada yang ingin saya tanyakan, Pak.”

Pak Abdul kembali berpikir, soal mana lagi yang tidak bisa dipecahkan oleh kepala cerdasmu, Aida? Seingatku, aku tidak pernah memberimu tugas.

Tapi, dengan tetap tersenyum, Pak Abdul kembali bertanya kepada Aida. “Apa yang mau Aida tanyakan?”

“Pak, saya ingin punya teman. Bapak tau bagaimana caranya punya teman?”

Pak Abdul langsung merengut begitu telinganya ditabu oleh jawaban dari mulut Aida. Ia benar-benar

bingung dengan kata yang keluar dari mulut Aida.

“Kenapa kamu bertanya seperti itu, Aida?”

“Saya rasa, di sekolah ini tidak ada yang mau berteman dengan saya, Pak.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Mungkin karena saya suka belajar.” Aida tidak berani memandang wajah Pak Abdul—mungkin ia sudah merasa takut. “Mereka bilang belajar itu membosankan. Berarti mereka tidak akan mau berteman dengan orang yang suka dengan hal membosankan.”

Pak Abdul menghempaskan nafasnya. Ia begitu iba dengan Aida. Dikiranya, Aida yang begitu pintar pasti bisa dapat banyak teman karena temannya bergantung kepada kepintarannya.

Tapi itu semua salah.

Pak Abdul memikirkan suatu cara bijaksana untuk memberi tips berteman kepada Aida. Kemudian, ia ingat kepada pelajaran yang ia berikan beberapa hari lalu kepada Aida. “Aida, coba kamu sebutkan bunyi Hukum I Newton.”

Aida kelihatan bingung, “maksud Bapak?”

“Sebutkan saja, Aida. Kamu masih ingat, kan?”

Aida mengangguk. “Jika gaya atau resultan yang bekerja pada sebuah benda sama dengan nol, benda akan tetap diam atau tetap bergerak lurus beraturan.”

“Bagus. Ternyata kamu masih ingat betul. Begini,” Pak Abdul menegakkan badannya dan memandang wajah muram Aida, “Berteman itu tak ubahnya seperti Hukum Newton. Konsepnya sama, tapi perlakuannya saja yang berbeda. Kalau pada benda diam maka besar gayanya sebesar nol. Begitu juga sebaliknya, jika kamu tetap diam dan tidak mau mencoba berkomunikasi dengan seseorang, maka kamu tidak akan bisa berteman dengan dirinya. Jadi, cobalah untuk berbicara, Aida.”

“Tapi saya takut untuk memulai bicara dengan mereka, Pak. Saya takut—”

“Lakukan saja, Aida. Apa kamu masih tidak mempercayainya?”

Aida tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Pak Abdul. Kemudian, Pak Abdul menyuruh Aida untuk: “Sebutkan bunyi Hukum II Newton. Kalau kamu sudah tahu bunyi Hukum I Newton, pasti kamu juga tahu bunyi Hukum II Newton.”

Aida hanya menjawab dengan nada yang pasrah dan tidak bersemangat, “jika resultan gaya yang bekerja pada benda tidak sama dengan nol, benda akan mengalami percepatan yang arahnya sama dengan arah resultan gaya.”

“Bagus. Saya rasa nanti pada saat ulangan Dinamika kamu mendapatkan nilai tertinggi.” Pak Abdul mencoba sedikit menghibur Aida sebelum ia memberi pemahaman baru kepada Aida. “Nah, sama seperti konsep tadi, anggap kamu itu benda, dan komunikasi kamu itu sebagai besar resultan gaya. Jika komunikasi kamu ada—alias tidak sama dengan nol—maka kamu akan bisa berteman dengan arah komunikasi kamu tadi. Mungkin kamu sedang membicarakan sesuatu, sehingga arah pembicaraan kamu dapat memberikanmu teman. Kira-kira seperti itulah, Aida. Kuncinya kamu harus mencoba berkomunikasi dengan mereka.”

Aida masih diam dan sepertinya ragu dengan apa yang dikatakan oleh Pak Abdul. Hal ini menjadi rasa bingung yang dialami Pak Abdul. Ia mencoba untuk bertanya pada Aida, “Apa yang kamu ragukan lagi, Aida?”

Aida mencoba terbuka kepada Pak Abdul. Kalau tadi ia bisa terbuka karena tidak mendapatkan teman, lantas apa alasan ia tidak terbuka untuk keraguannya. “Saya ragu kalau misalnya nanti saya sudah berbicara, lantas mereka tidak bisa menerima saya.”

“Itu tidak mungkin.” Pak Abdul langsung membantah Aida.

“Mungkin saja bisa terjadi, Pak. Saya rasa, konteks pembicaraan saya tidak sama dengan konteks pembicaraan mereka. Kalau saya mahir berbicara tentang pelajaran, kalau mereka pasti mahir berbicara tentang fashion. Sementara saya tidak tahu apa-apa tentang fashion. Pasti kami tidak bakalan nyambung.”

Pak Abdul langsung tersenyum. Menurutnya, ini sangat menarik. Kemudian, lagi-lagi Pak Abdul menyuruh Aida untuk mengulang pelajarannya. “Coba sebutkan bunyi Hukum III Newton!”

“Jika benda pertama mengerjakan gaya pada benda kedua, benda kedua akan mengerjakan gaya yang sama besar pada benda pertama dengan arah yang berlawanan.”

“Wah, kamu benar-benar cerdas, Aida. Satu test tambahan, coba sebutkan rumusnya!”

Aida kembali bisa menjawab, “F aksi sama dengan minus F reaksi, Pak.”

“Ya, itu dia kuncinya, Aida. Kenapa F reaksinya harus minus?”

“Agar F aksi yang ingin kita cari bisa valid, Pak. Karena, pada benda kedua akan mengerjakan gaya yang sama besar pada benda pertama dengan arah yang berlawanan.”

Pak Abdul merasa bangga karena perkataan beberapa hari yang lalu masih diingat oleh Aida. Kemudian, ia langsung mengutarakan pendapatnya, “Benda kedua aja rela berlawanan arah demi gayanya sama besar dengan benda pertama. Masak kamu enggak. Coba kamu mulai  cari tahu persoalan fashion yang biasa mereka bicarakan. Lalu, cobalah berbicara dengan mereka. Pasti mereka akan merasa nyambung. Ini semua karena kamu mau berlawanan arah untuk bisa nyambung dengan mereka.”

Aida sepertinya setuju dengan ucapan Pak Abdul. Kemudian, ia mengangguk. “Nanti akan saya coba, Pak.”

“Bagus. Aida, dengarin Bapak. Teorinya memang sangat ribet. Tapi coba kamu lakukan, memang susah-susah gampang. Tapi, kamu akan mendapatkan hasil seperti yang kamu mau.” Pak Abdul kembali senyum melihat wajah Aida yang sudah tidak ragu lagi. “Sudah, pergi kamu masuk kelas. Rajin belajar dan cobalah belajar dari Hukum Newton. Semoga kamu dapat banyak teman.”

Aida langsung kembali ke kelas dan waktu istirahat pun habis. Sementara Pak Abdul yang setelah istirahat tidak dapat jadwal mengajar, masih terduduk diam di menjanya dan senyum-senyum sendiri karena masih lucu melihat kehidupan anak muda zaman sekarang.

1 comment: